Poco F3 - Downgrade Minor Upgrade Esensial

Spesification Poco F3

6,67 Inch E4 Amoled, 1300Nits

Snapdragon 870 (7nm) 3,2Ghz

Adreno 650

LPDDR5

UFS 3.1

48MP F1.79 Sony IMX 582

8MP Ultra Wide F2.2 Sony IMX 355

5Mp F2.4 Macro Samsung S5K5E9

20Mp F2.45 Samsung S5K3T2


Harga

6+128GB Rp.5Juta

8+256GB Rp.5,5Juta

Harga Official Website


Design dan Build Quality

Dari aspek design menurut gue Poco F3 mendapatkan upgrade kalo dibandingkan dengan versi pendahulunya. Bagian belakang ini keliatan lebih tegas dan memancarkan aura mewah ketimbang versi sebelumnya. Untuk yang warna putih ini finishingnya berasa kayak Matte, kesannya mahal gitu, gak gampang ninggalin sidik jari juga. Saran gue sih ambil warna yang ini kalo kalian gak terlalu suka pake case dan gak mau repot repot ngelap setiap ngambil hape ini dari tas atau saku. 

Hape ini juga mengusung tampilan layar dengan punch hole yang buat gue lebih enak diliat daripada yang ada di versi sebelumnya. Selain keliatan lebih modern, penggunaan punch hole ini juga lebih fungsional karena dengan menggunakan punch hole Poco F3 bisa mendapatkan sertifikasi IP 53 yang kayaknya lebih berguna ketimbang kamera depan yang bisa naik turun.

Walau secara tampilan hape ini mendapatkan upgrade yang bagus, tapi tetep ada beberapa catatan yang membuat Poco F3 ini berasa downgrade dari versi sebelumnya. Frame yang mengelilingi hape ini masih terbuat dari plastik, dimana versi sebelumnya menggunakan frame aluminium. Tapi sebenernya frame plastik ini kan akhirnya tersamarkan dengan pengunaan case, atau kalo gak mau pake case hape ini kan dilapisi Gorilla Glass 5 di bagian depan dan belakang dan hapenya terbilang cukup tipis dengan ketebalan dibawah 0,8cm jadi pas dihandle frame ini gak akan terlalu terasa plasticky karena tangan kita akan lebih banyak megang si lapisan Gorilla Glass 5. 

Catatan kedua, agak disayangkan ya kalo di seri sebelumnya kita dapet in display fingerprint, untuk seri Poco F3 ini kita dapet side mounted finger print. Untuk gue yang lebih seneng dengan fingerprint di depan, faktor ini jadi salah satu hal yang bikin gue urung untuk menjadikan hape ini sebagai hape utama. Padahal udah naksir banget sama design belakang plus ketipisan hape yang enak di handle. Tapi untuk kalian yang gak punya masalah sama side mounted finger print, mungkin akan merasa gak masalah dengan downgrade yang terjadi di sektor ini. Toh kecepatan baca sidik jarinya terhitung bagus banget kok. 


Layar

Bicara layar, ini adalah sektor yang buat gue sangat berasa upgradenya. Dengan menggunakan Panel E4 dynamic Amoled, tingkat kecerahan maksimal 1300 nits, refresh rate 120Hz dengan touch sampling 360Hz, dan color gamut 100% DCI-P3 membuat pengalaman penggunaan hape ini jadi terasa lebih menyenangkan kalo dibandingkan dengan versi sebelumnya yang gak punya refresh rate tinggi. Hal ini yang jadi pertimbangan utama untuk memilih antara Mi 10T Pro atau Poco F3. Kalo kalian suka banget sama layar Amoled tapi gak mau kantong cekak, Poco F3 ini pilihan bagus. Resolusi FHD+ dirasa udah menjadi hal yang lumrah dan kita sepertinya gak bisa minta lebih dari ini deh. 


Audio

Sama kayak bagian layar, bagian ini juga mendapatkan peningkatan dari versi sebelumnya. Dari yang sebelumnya cuma dapet single bottom firing speaker, sekarang dapet stereo speaker dengan penempatan di bagian atas dan bawah handphone. Wih mirip Mi 10 sama Mi 11 nih, walau untuk kualitas suara jelas masih dibawah Mi 10 apalagi Mi 11 tapi keberadaan stereo speaker dengan kualitas seperti ini di harga 5,5 juta tetep harus sangat amat disyukuri. Posisi speaker ini menurut gue bagus bagus aja, menurut pandangan gue sebagai orang yang gak banyak ngegame dengan posisi landscape, karena kalo lagi ngegame dengan posisi landscape model speaker kayak gini tuh rawan ketutupan tangan. 

Downgradenya? Hape ini kehilangan 3,5 mm audio jack. Yaaa buat sebagian orang mungkin akan merasa kehilangan tapi untungnya stok earphone type C gue masih aman nih, jadi kehilangan 3,5 mm audio jack bukan menjadi masalah besar. 

Oh iya, hape ini masih membawa dukungan Dolby Atmos sama kayak pendahulunya. Tapi untuk bisa menikmati fitur Dolby Atmos, begitu buka box langsung update MIUI dulu ya, karena dari Poco sendiri mengatakan Dolby Atmos akan tersedia setelah update. 


Performa

Mungkin ini jadi salah satu sektor yang perkembangannya gak berasa. Karena sejatinya SD 870 bukanlah produk baru, melainkan overclock dari SD 865/865+. Jadi sepertinya dari segi performa gak akan jauh jauh beda dari SD 865. Tapi tetep, kebijakan Poco untuk memberikan varian RAM LPDDR5 dan UFS 3.1 untuk kedua varian produk bisa dikatakan sebagai sebuah upgrade. 


Kamera

Gue agak gak paham apakah sensor kamera yang digunakan di versi sebelumnya yang menggunakan Sony IMX 686 kalo dibandingkan dengan sensor Sony IMX 582 dapat dikatakan sebagai penurunan atau enggak. Tapi spec wise, sebenernya gue agak sedikit meragukan kualitas kamera dari Poco F3 ini. Sony IMX 582 itu sensor yang terbilang tua (umurnya kurang lebih 2 tahun) dan penggunaannya pun bukan dikalangan hape hape yang terkenal punya kamera mantep, dan sebenernya sempet berharap kalo Sony IMX 586 yang dipake untuk hape ini. Tapi semoga dalam pengujian nanti hasil fotonya gak mengecewakan, gue pribadi masih mencoba buat yakin sama kombinasi IMX 582 dengan Spectra 480 yang ada di Snapdragon 870 ini. Oh iya untuk fitur tambahan yang seru, di bagian kamera ada microphone yang membantu dalam pemrosesan audio zoom, mirip kayak yang ada di Huawei P40 Pro

Previous Post Next Post